JAKMAS || JOMBANG — Semaoen (sering ditulis Semaun) lahir pada tahun 1899 di Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur . Ia adalah putra Prawiroatmodjo, seorang tukang batu yang bekerja di jawatan perkeretaapian kolonial Belanda . Meski berasal dari keluarga sederhana, Semaoen tetap mendapat kesempatan menempuh pendidikan .
📚 Masa Kecil dan Pendidikan
Pada tahun 1906, Semaoen mulai bersekolah di Tweede Klas, yaitu sekolah bumiputera kelas dua . Ia juga mengikuti pelajaran tambahan bahasa Belanda di Eerste Klas Inlandsche School melalui kursus sore . Di usia 13 tahun, tepatnya tahun 1912, Semaoen lulus ujian calon pegawai Pamong Praja dan memperoleh sertifikat "Klein Ambtenaar" . Setahun kemudian, pada 1913, ia mulai bekerja sebagai juru tulis di Staatsspoor (SS) Surabaya .
Perjalanan Organisasi dan Politik
Pada tahun 1914, Semaoen dipercaya menjadi Sekretaris Sarekat Islam cabang Surabaya . Di tahun yang sama, ia bertemu dengan Henk Sneevliet, tokoh Belanda yang membawa paham sosialisme ke Hindia Belanda . Semaoen kemudian berhenti bekerja di kereta api dan pindah ke Semarang menjadi propagandis serikat buruh kereta api dan trem (VSTP), sekaligus menjadi redaktur surat kabar mereka . Pada 6 Mei 1917, ia terpilih menjadi Ketua Sarekat Islam cabang Semarang .
Pada 23 Mei 1920, Semaoen bersama tokoh lainnya mengubah ISDV menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), dan ia dipercaya sebagai Ketua Umum PKI pertama . Akhir 1921, ia pergi ke Moskow menghadiri Kongres Komunis Internasional, dan digantikan oleh Tan Malaka . Kembali pada Mei 1922, ia menjabat lagi sebagai Ketua PKI hingga 1924 .
Pada 8 Mei 1923, Semaoen ditangkap pemerintah kolonial karena memimpin pemogokan buruh kereta api . Ia kemudian diasingkan dan memilih pergi ke Belanda, lalu menetap di Uni Soviet selama lebih dari 30 tahun . Di sana ia bekerja sebagai penerjemah dan pengajar bahasa Indonesia di Akademi Diplomatik Moskow, serta sempat menjadi penyiar radio .
🏠 Kepulangan ke Indonesia
Semaoen kembali ke Indonesia pada tahun 1957 . Ia menyatakan tidak pernah kembali ke PKI karena menilai partai tersebut sudah berubah dari prinsip awal . Semaoen justru berafiliasi dengan Partai Murba yang saat itu menentang kebijakan PKI .
🏛️ Jabatan di Pemerintahan
Semaoen diangkat sebagai Anggota Dewan Penasihat Pemerintah sejak tahun 1959 hingga 1961 . Selain itu, ia juga dipercaya menduduki jabatan penting sebagai Wakil Ketua Badan Pengawasan Kegiatan Aparatur Negara, yang saat itu diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX . Ia juga mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Ekonomi dari Universitas Padjadjaran dan menulis risalah berjudul "Tenaga Manusia: Postulat Teori Ekonomi Terpimpin" pada tahun 1961. Semaoen juga mengajar mata kuliah ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung .
🕊️ Wafat
Semaoen wafat pada tanggal 7 April 1971 di Jakarta, pada usia 72 tahun . Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga R.A. Prawiraatmadja di Pasuruan, Jawa Timur .
Demikian riwayat lengkap Semaoen — dari anak tukang batu di Curahmalang, pendiri dan ketua pertama PKI, hidup puluhan tahun di pengasingan, hingga pulang dan mengabdi sebagai bagian dari Badan Pengawasan Pemerintah serta pendidik di tanah air .(Timred).