Mempertemukan Pedagang Pasar, Pelaku Aktivitas Terminal, Karyawan, dan Komunitas Sepeda Onthel dalam Perayaan HUT ke-81 RI

Tim Karyawan Jam Tayang Saat Foto Bersama

JAKMAS || SIDOARJO — Ada yang berbeda di kawasan Terminal Larangan, Sidoarjo, dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini. Bukan panggung besar atau pesta dengan kemeriahan berlebih-lebihan, melainkan perlombaan sederhana yang mempertemukan orang-orang dari dua dunia yang setiap hari berdampingan: pedagang pasar dan para pelaku aktivitas terminal.
 
Gagasan tersebut digagas oleh JAM TAYANG, sebuah kedai kopi yang berada di kawasan Terminal Larangan. Dalam perayaan kemerdekaan kali ini, JAM TAYANG mengajak pedagang Pasar Larangan, para pelaku aktivitas di lingkungan terminal, seluruh karyawannya, serta Komunitas Sepeda Onthel Sidoarjo untuk turut merayakan kemerdekaan bersama.
 
Komunitas Sepeda Onthel Sidoarjo 

Bagi penyelenggara, kegiatan ini bukan sekadar mengulang tradisi lomba 17 Agustus. Ada sebuah ruang sosial yang ingin dibangun: mempertemukan orang-orang yang selama ini bekerja di tempat yang sama, tetapi belum tentu saling mengenal.
 
“Pasar dan terminal itu sebenarnya hidup berdampingan. Setiap hari ada banyak orang yang bertemu, tetapi masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Kami ingin menggunakan momen kemerdekaan untuk membuat mereka berhenti sejenak, berkumpul, dan saling mengenal,” ujar pihak JAM TAYANG.


Ketika Pasar dan Terminal Berhenti Sejenak
 
Pasar dan terminal merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Larangan. Di satu sisi terdapat pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas jual beli. Di sisi lain, terminal menjadi tempat pertemunya orang-orang yang datang dan pergi, bekerja, maupun menjalankan aktivitas ekonomi.
 
Kesibukan tersebut membuat interaksi antarkelompok sering kali sebatas perjumpaan sehari-hari. Perayaan kemerdekaan ini mencoba mengubahnya.
 
Dalam perlombaan yang digelar, tidak ada batas antara pedagang, pekerja terminal, karyawan kedai, maupun komunitas. Mereka berada dalam posisi yang sama: menjadi peserta dan warga yang merayakan kemerdekaan bersama.
 
JAM TAYANG juga menyediakan berbagai pilihan minuman bagi peserta sejumlah hadiah hiburan. Yang ditawarkan bukan nilai hadiah yang besar, melainkan kesempatan untuk menciptakan pengalaman bersama.
 
 
 
Bioskop Lawas dan Sepeda Onthel
 
Ada alasan mengapa JAM TAYANG mengajak komunitas sepeda onthel dalam kegiatan tersebut.
 
Kedai kopi ini sejak awal membawa konsep yang berbeda. Alih-alih mengusung desain kedai modern, JAM TAYANG mengambil inspirasi dari gedung bioskop lawas. Poster-poster film jadul menjadi bagian dari interior dan identitas kedai.
 
Konsep tersebut sengaja menghadirkan suasana nostalgia—mengingatkan pengunjung pada masa ketika menonton film di bioskop merupakan pengalaman yang berbeda dengan hari ini. Kehadiran Komunitas Sepeda Onthel Sidoarjo kemudian menjadi bagian dari cerita yang sama.
 
Sepeda-sepeda tua itu membawa kembali potongan masa lalu ke tengah kawasan terminal yang terus bergerak. Masa lalu dan masa kini bertemu di satu tempat: Terminal Larangan. Di satu sisi ada sepeda onthel dan poster film lawas. Di sisi lain ada pasar, terminal, kedai kopi, dan aktivitas masyarakat yang terus berlangsung.
 
 
 
Merayakan Kemerdekaan Tanpa Sekat
 
Menurut JAM TAYANG, menggabungkan unsur pasar dan terminal dalam sebuah perayaan kemerdekaan merupakan gagasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya di kawasan tersebut. Namun, yang ingin dibangun bukan sekadar acara yang berbeda.
 
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat hubungan sosial di antara masyarakat yang beraktivitas di kawasan Larangan.
 
“Bagi kami, kemerdekaan juga berarti bisa hidup berdampingan dengan orang lain. Bisa saling menghormati, menjaga lingkungan, dan menciptakan suasana yang nyaman untuk semua. Karena itu kami ingin perayaan ini melibatkan sebanyak mungkin orang yang memang sehari-hari ada di kawasan ini,” ujar Yudha dari pihak JAM TAYANG.
 
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya JAM TAYANG untuk menempatkan kedai kopi bukan hanya sebagai tempat membelai minuman, tetapi sebagai ruang temu masyarakat dan komunitas.
 
 
 
Dari Lomba 17 Agustus ke Ruang Silaturahmi
 
Ada harapan sederhana yang ingin ditinggalkan setelah perlombaan selesai. Pedagang pasar dapat lebih mengenal orang-orang yang bekerja di terminal. Pelaku aktivitas terminal dapat lebih dekat dengan masyarakat sekitar. Karyawan JAM TAYANG dapat berinteraksi dengan lingkungan tempat mereka bekerja. Komunitas sepeda onthel pun mendapatkan ruang untuk berbagi cerita tentang masa lalu.
 
Semuanya ditemukan melalui satu alasan yang sama: merayakan kemerdekaan Indonesia. JAM TAYANG berharap kegiatan ini dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih baik di kawasan Terminal Larangan.
 
Sebab, bagi mereka, perayaan kemerdekaan tidak harus selalu berlangsung dalam skala besar. Kadang-kadang, kemerdekaan bisa dirasakan dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: orang-orang yang sebelumnya hanya berpapasan akhirnya saling menyapa, tertawa bersama, dan pulang membawa cerita yang sama.
 
 Tentang JAM TAYANG
 
JAM TAYANG merupakan kedai kopi yang berada di kawasan Terminal Larangan, Sidoarjo. Mengusung konsep gedung bioskop lawas, kedai ini menghadirkan suasana nostalgia melalui poster-poster film jadul dan elemen visual yang terinspirasi dari dunia perfilman masa lalu.
 
JAM TAYANG juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai komunitas dan masyarakat di sekitar kawasan Terminal Larangan melalui kegiatan-kegiatan yang mengedepankan kebersamaan.(Jhon/Yud).
Previous Post Next Post