JAKMAS || JOMBANG – Sejarah baru tertulis di Muktamar ke‑35 Nahdlatul Ulama. KH Abdul Hakim Mahfudz—atau yang akrab disapa Gus Kikin—resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031. Keputusan mutlak ini diambil oleh sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam sidang sakral di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada hari Senin. Ia menggantikan amanah sebelumnya yang dipegang oleh KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
✅ Dari Lima Kandidat Terpilih Sebagai Terkuat
Sebelum mencapai puncak tersebut, nama Gus Kikin muncul bersinar di daftar lima besar calon yang diusulkan peserta muktamar. Bersama empat nama lain yang tangguh—KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib (Gus Salam), KH Yahya Cholil Staquf, serta KH Abdul Ghofar Rozin (Gus Rozin)—persaingan berjalan terhormat dan penuh hikmat. Keunggulan visi, latar belakang, serta kedekatan dengan akar tradisi menjadikan sosok ini pilihan utama para pemimpin ulama.
🌳 Silsilah: Cicit Ulama Pendiri yang Menginspirasi
Bagi keluarga besar Nahdliyin, Gus Kikin sama sekali bukan wajah asing. Lahir di tanah kelahirannya Jombang, 17 Agustus 1959, beliau kini dikenal pula sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng serta Ketua PWNU Jawa Timur. Garis keturunannya sangat istimewa: beliau adalah cicit dari Hadratus Syaikh KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri NU yang mulia—lewat jalur neneknya, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim. Ayahnya, KH Mahfudz Anwar, adalah ulama ahli fikih, tafsir, bahasa Arab, dan falak; sedangkan ibunya, Nyai Hj. Abidah Ma’shum, turut menguatkan ikatan erat dengan silsilah ulama besar tanah air.
🎓 Jalur Pendidikan Unik: Santri, Pelaut, Hingga Pengusaha Sukses
Perjalanan hidupnya tercatat sangat kaya warna. Selain mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Sunan Ampel dan Salafiyah Seblak Jombang—ia juga menempuh jalur pendidikan umum yang lengkap: mulai dari sekolah dasar hingga menengah di kota kelahirannya, lalu melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta (1975–1979) serta meraih gelar sarjana komunikasi dari Universitas Terbuka pada tahun 2013.
Bakat dan ketekunannya kemudian melesat di dunia nyata: mendirikan usaha yang berkembang pesat di Surabaya lalu meluas hingga ke Jakarta sejak tahun 2000. Kini jangkauannya mencakup transportasi, kontraktor, teknologi informasi, komoditas pertanian, media penyiaran (BBS Group), hingga eksplorasi energi dan pertambangan (PT Energi Mineral Langgeng). Pengalaman strategis ini bahkan membawanya berkiprah di Kamar Dagang dan Industri (Kadin)—membekali dirinya dengan keahlian manajemen tingkat nasional.
🤝 Kembali Mengabdi ke Rumah Besar NU
Meski melangkah jauh di sektor ekonomi dan profesionalisme, hatinya tetap tertambat pada tanah air santri. Di Muktamar 2022, ia dipercaya memimpin sektor ekonomi di PBNU, lalu memantapkan langkah menyatukan kekuatan di Jawa Timur sebagai Ketua PWNU hingga periode berjalan. Harapan besar kini menumpuk: keahlian organisasi dan fondasi kekayaan sumber daya manusia ini akan menjadi kunci memperkokoh kemandirian ekonomi umat.
📢 Pesan Tegas: “NU Bukan Organisasi Politik”
Di awal kepemimpinannya yang baru, Gus Kikin telah menyampaikan pesan penyatuan yang jernih. Ia mengajak seluruh warga Nahdliyin merapatkan kembali barisan pasca‑muktamar dan menjaga kekompakan hati.
“NU itu bukan untuk berpolitik. NU itu adalah organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan.”
Prinsipnya tegas: menjaga batasan hubungan dengan dinamika kekuasaan tetap jelas terpisah, namun senantiasa membuka pintu dukungan konstruktif kepada pemerintah sesuai kewajiban kebangsaan dan syariat. Bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar, sosok yang matang ini diharapkan membawa nafas baru, teratur, dan mandiri—mengembalikan serta menjaga NU tetap menjadi mercusuar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. (Budi/MKD).