JAKMAS || Mojokerto – Rangkaian tradisi sowan menyambut bulan Asyura atau 1 Suro di bekas pusat Kerajaan Majapahit berjalan berurutan sejak kemarin, melintasi titik-titik bersejarah paling sakral. Acara diikuti sekitar 30–40 orang pemangku takhta dan adat dari berbagai wilayah Nusantara, ditambah kehadiran tamu kehormatan dari luar negeri.
Ketua penyelenggara, Kiseto, merinci urutan perjalanan: “Acara dimulai kemarin dari Petilasan Hayam Wuruk, dilanjutkan ke Situs Tribuana Tungga Dewi, lalu Candi Brahu dan berhenti di Candi Kedaton. Pagi tadi rangkaian diteruskan berkumpul di Pendopo Agung, dan ditutup secara khidmat di Siti Inggil ini.”
Turut hadir menyempurnakan kebersamaan, Datuk Sri Ramli asal Kuala Lumpur yang mengucapkan rasa syukur: “Saya sangat berterimakasih bisa hadir di bumi Majapahit ini dan berkumpul dengan para komunitas raja dan adat. Semoga program-program kita untuk mewujudkan cita-cita yang mulia ini bisa terwujud untuk persatuan kita dan perdamaian kita semua.”
Lebih dari sekadar kunjungan, rangkaian ini bermakna mendalam sebagai perjalanan spiritual dan pengingat sejarah. Kiseto menambahkan tujuannya: “Ke depan, acara ini ingin menjadi referensi dan penyemangat bagi pelaku budaya serta generasi penerus, agar jati diri bangsa tetap terjaga dan tidak mudah terpengaruh oleh budaya luar dari Barat, Eropa, maupun Timur Tengah.”
Berjalan menyatukan jejak warisan Hindu-Buddha dan nilai Islam yang telah menyatu berabad-abad, tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa semangat Majapahit tetap hidup — menjadi jembatan persatuan lintas wilayah, bahkan lintas negara, demi kedamaian dan keutuhan Nusantara.(Jhon).