| Foto pak Amad |
JAKMAS || Mojokerto - Nama Amad mungkin tidak selalu menjadi sorotan utama dalam buku sejarah, namun perannya menjadi kunci peristiwa bersejarah perobekan bendera di Hotel Yamato tak tergantikan. Di usianya yang luar biasa 104 tahun, beliau masih menjadi saksi nyata ketangguhan jiwa pejuang yang tak pernah luntur oleh waktu.
Lahir 7 Februari 1922, kini beliau hidup tenang di kediamannya: Desa Tami ajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Saat ditemui pada Rabu, 26 Agustus 2026, kenangan masa lalu masih teringat jelas dalam ingatannya—terutama peristiwa bersejarah pada 19 September 1945 di Surabaya.
“Saya tugasnya menyusun dan menegakkan tangga itu agar kokoh. Setelah yakin kuat, barulah kawan-kawan berani naik dan merobek bendera kebanggaan Belanda itu,” tutur Amad dengan kesederhanaan yang menyentuh hati. Sebagai bagian dari Badan Keamanan Rakyat, beliau adalah pendamping setia sekaligus sahabat dekat Bung Tomo saat membakar semangat rakyat Suroboyo.
Perjalanan hidupnya penuh gelombang: pernah mengabdi di Heiho, Polisi Istimewa Jepang, hingga menjadi Prajurit TNI. Meski tidak mengenyam pendidikan baca tulis, kesetiaannya kepada negara mutlak—termasuk dikirim menumpas pemberontakan di Sulawesi, berhadapan dengan pasukan Westerling, dan sempat ditawan KNIL selama empat bulan pada masa Agresi Militer II sebelum akhirnya pensiun tahun 1978.
Keberkahan hidupnya terlihat dari keluarga besar yang dijaga: memiliki 12 orang anak serta 31 cucu. Kini sisa hari dijalani tenang bersama istri tercinta, ditunjang penghargaan negara berupa pensiun militer. Namun pandangannya tetap tajam melihat kenyataan zaman:
“Saya sedih melihat banyak orang berani korupsi dan mengambil hak rakyat,” ujarnya lugas dan jujur. Doa serta harapan pejuang tua ini tegas: “Semoga Pemerintahan Presiden Prabowo bertindak tegas dan tak memberi jalan bagi pencuri uang negara.”
Di dadanya tersemat kehormatan tertinggi seperti Bintang Gerilya, bukti bahwa meski hidup sederhana—sosok seperti Amad adalah pondasi kuat bangsa ini: berusia senja, namun semangatnya tetap muda dan bersinar terang. (Jhon/Wandi).