JAKMAS || JOMBANG – Di tengah suasana khidmat pembukaan Muktamar ke‑35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan pesan mendasar dan tajam. Beliau menegaskan bahwa kekuatan umat untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran terancam serius apabila terbelenggu keterbelakangan ekonomi serta kebodohan yang merajalela.
Akar Kelemahan: Ekonomi Lemah
Dalam khutbah pembuka yang menyentuh hati, Kiai Miftach menjelaskan dengan lugas:
“Sesungguhnya penghambat terbesar umat melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar adalah kemiskinan dan kelemahan di berbagai bidang—terutama ekonomi.”
Tanpa pondasi kesejahteraan yang kokoh, ajaran sulit berdiri tegak sempurna dan martabat umat mudah tergerus keadaan.
Bahaya Besar: Merebaknya Kebodohan
Lebih jauh lagi, beliau mengingatkan peringatan Al‑Qur’an dan Sunnah bahwa musuh nyata kemajuan adalah al‑jahlu atau kebodohan. Dampaknya sangat merusak:
- Membuat orang hilang kemampuan membedakan mana yang berharga dan mana yang merusak
- Membuat masyarakat tertipu dan menganggap alasan kosong/palsu sebagai kebenaran mutlak
⚖️ Jabatan Harus Milik yang Kompeten – Jangan Percayakan Agama pada Orang Jahil
Satu poin krusial yang disoroti adalah tata kelola kepemimpinan agama. Kiai Miftach mengingatkan bahaya fatal jika urusan umat diserahkan kepada mereka yang tidak berilmu dan cakap. Beliau mengutip wasiat Nabi Muhammad Saw. tentang masa di mana ulama lenyap lalu tampil pemimpin‑pemimpin buta ilmu.
“Ini teguran bagi pemegang kebijakan: jangan serahkan amanah agama kepada orang yang tidak paham. Kalau yang memimpin adalah orang bodoh, fatwa jadi sesat, aturan menyesatkan, dan kehormatan ajaran akan terkikis habis.”
Pesan ini menjadi landasan kuat bagi seluruh proses Muktamar: agar NU tetap berdiri tegak di atas prinsip keahlian, kejujuran, dan kewibawaan ilmu pengetahuan demi menjaga arah bangsa tetap lurus dan terang benderang. (Jhon/Budi B).