JAKMAS || Mojokerto– Di ruang perawatan yang tenang, sorot mata sore yang menyelinap lewat jendela seolah ikut membelai sosok yang selama ini dikenal sebagai "Relawan Birunya Cinta". Zaenal Abidin tersenyum tipis—badannya terasa remuk, namun hatinya hangat diselimuti kasih sayang yang berdatangan dari segala arah. Ia paham: jalan mengabdi pada sesama tak pernah lepas dari risiko. Namun saat melihat ribuan doa menyelimuti dirinya, ia tahu setiap tetes keringat dan rasa sakit yang dirasakan tak pernah sia-sia.
Suapan Hangat di Sela Lemahnya Tubuh
Di Ruang Kertabumi, piring berisi hidangan kesukaannya masih utuh di atas meja samping ranjang. Meski baru saja sadar dari perawatan, permintaannya begitu sederhana dan lemah—bubur ayam hangat. Segera, sahabat dan rekan yang menunggunya bergerak sigap.
Dengan hati-hati, sesendok bubur berkuah bening diantarkan ke bibirnya. Rasa hangat itu menyusuri kerongkongan yang perih, seolah merawat setiap inci yang terluka. Meski persendian masih terasa ngilu, setidaknya tak ada lagi rasa tertusuk saat ia menelan. Zaenal menatap kerumunan di sekelilingnya—ada wajah yang sudah akrab, banyak pula yang baru pertama kali ia temui, namun semuanya membawa perhatian yang tulus.
"Terima kasih... terima kasih sudah datang," suaranya serak namun lembut. "Sebenarnya tak perlu repot begini. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Kalau ada yang butuh tolong, ya kita bantu. Itu saja..."
Pengabdian Tanpa Hitung Rugi
Ucapan sederhana itu menyentuh hati setiap orang yang hadir. Salah satu relawan menepuk bahunya pelan dengan mata berkaca.
"Itulah kenapa kami ada di sini, . Kamu tak pernah menghitung untung-rugi saat menolong. Sekarang giliran kami yang menjagamu. Istirahatlah, pulihkan tenagamu—masih banyak yang butuh kehadiranmu."
Saat malam turun, satu per satu orang berpamitan. Namun tak ada yang pergi tanpa mendoakan. Di luar ruangan, doa keluarga dan sahabat menyatu dengan ribuan harapan orang yang mengikuti kisahnya lewat layar gawai—menyusup ke langit, berharap kebaikan yang ia tabur kini berbalik menyembuhkan dirinya.
Semangat "Relawan Birunya Cinta" Tak Padam
Zaenal kembali memejamkan mata, merasakan denyut di kedua tangannya yang masih dibalut perban. Di tengah nyeri itu, hatinya damai. Ia paham jalan pengabdian tak selamanya mulus—kadang harus merasakan pedih demi melindungi orang lain. Namun selama napas masih berhembus dan tangan masih bisa digerakkan, ia bersumpah dalam hati: tak akan berhenti menjadi "Birunya Cinta" yang selalu siap sedia bagi siapa saja yang membutuhkan.
Kisah Zaenal Abidin mengajarkan satu kebenaran yang abadi: kebaikan yang tulus tak pernah sia-sia, walau kadang harus dibayar dengan rasa sakit. Semoga beliau lekas pulih sepenuhnya, dan kembali berkarya bagi masyarakat yang telah mencintainya.(Redaksi Jhon).