Warga Dusun Paras Desa Turi Pingir Gelar Sedekah Dusun Di Makam Leluhur Di Bukan Suro

JAKMAS || JombangWarga Dusun Paras, Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, kembali menggelar Sedekah Dusun sebagai wujud syukur sekaligus upaya melestarikan tradisi yang telah diturunkan turun temurun. Perhelatan istimewa ini berlangsung pada Jumat Pahing, 19 Juli 2026, memusatkan rangkaiannya di sekitar punden makam setempat dan dihadiri oleh ratusan warga yang memadati lokasi dengan penuh khidmat.
 
Keunikan tradisi ini terlihat dari tempat pelaksanaannya, yakni di area pemakaman umum yang sekaligus menjadi tempat peristirahatan terakhir para sesepuh desa. Seluruh ritual dipimpin oleh juru kunci Makam Mbah Sandi, tokoh bersejarah yang dikenal luas sebagai pendiri Dusun Paras dan menjadi akar keberadaan wilayah ini.
 
Sebelum puncak acara dimulai, ratusan jodang, jolen, serta gunungan hasil bumi disusun rapi lalu diarak mengelilingi permukiman. Arak-arakan ini berakhir di halaman makam punden Mbah Sandi, di mana terlebih dahulu dibacakan doa bersama sebagai permohonan berkah. Setelah doa selesai, barulah isi jolen direbutkan secara meriah oleh warga yang hadir.
 
Begitu prosesi doa usai, antusiasme ratusan warga terlihat memuncak saat berebut isi jodang yang berisi aneka makanan tradisional dan jajan khas desa. Bagi mereka, mendapatkan bagian dari hasil bumi ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan diyakini membawa keberkahan bagi diri dan keluarga.
 
Salah satu warga yang ditemui seusai kegiatan tampak gembira menyampaikan pengalamannya. “Saya berhasil membawa pulang pisang, nasi, kerupuk, dan berbagai jajan. Rasanya seru sekali mengikuti acara ini meski sempat ada dorong-dorongan. Nanti sebagian saya makan dan sisanya saya bagikan ke tetangga,” ujarnya dengan senyum lebar.
 
Hal senada disampaikan pengunjung lainnya yang ikut berebut gunungan hasil bumi. “Tadi dapat sayur kangkung, kacang panjang, dan sayuran lain yang masih segar. Rencananya akan saya olah menjadi lauk makan di rumah,” tambahnya.
 
Tomy, tokoh masyarakat setempat, menjelaskan makna di balik tradisi ini. “Intinya untuk mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas segala rezeki yang melimpah. Tahun ini terasa lebih meriah, meski jumlah pengunjung berubah: jika tahun lalu mencapai ribuan orang, tahun ini diperkirakan sekitar 300 orang, namun justru lebih tertata dan khidmat. Pengunjung dari luar desa tetap hadir memanfaatkan liburan sekolah,” jelasnya.
 
Ia menambahkan bahwa persiapan dilakukan secara gotong royong. “Secara keseluruhan ada lebih dari 200 jodang yang disiapkan warga dan diarak bersama menuju lokasi makam. Selain syukur, tujuan utamanya adalah mengenang jasa Mbah Sandi sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga,” tegas Tomy.
 
Dengan nuansa yang tenang namun bermakna, Sedekah Dusun di Dusun Paras terus hidup sebagai bukti cinta masyarakat terhadap warisan leluhur. Tradisi ini menjadi momen rutin yang dinanti, mengajarkan makna syukur, berbagi, dan menjaga kebersamaan selamanya.
 
(Budi B/Jhon)
Previous Post Next Post